Tags

, , , ,

Air minum sering kita sebut air putih ketika tidak diberi imbuhan apapun. Ketika diberi sesendok-dua sirup, jadilah berwarna. Tidak lagi kita sebut air putih karena tidak berwarna. Dan air yang layak minum biasanya juga tidak berbau. Air bau biasanya tercemar.

Sesuatu yang tidak tercemar biasa kita sebut putih. Baju putih, merpati putih, mega putih, akung putih, bangau putih. Dalam dunia persilatan juga dikenal istilah aliran putih, kumpulan pendekar budiman yang dikisahkan selalu membela yang tertindas, memberantas kejahatan. Berbalikan dengan aliran hitam, yang isinya jajaran pesilat berperangai buruk, berwajah sangar, semena-mena. Hitam, sering kita hubungkan dengan hal-hal negatif: kegelapan, gagak hitam, ilmu hitam…

Meskipun begitu, tidak otomatis semua hal yang hitam selalu berkonotasi buruk. Rambut hitam ada saatnya menjadi kebanggaan orang. Semut hitam sering disebut sebagai contoh keteladanan, kerja keras, dan tertib. Satria baja hitam, dipuja karena membela yang lemah. Sedan hitam disukai para eksekutif papan atas. Bahkan ada aliran spiritual yang pada tahap awal proses cendrung mengenakan busana putih. Tapi justru pada tahap lanjut mereka mengenakan busana hitam. Mungkin di awal ada euforia (merasa) mendapat pencerahan. Tetapi setelah mencoba mendalami ternyata makin dalam makin paham pula betapa kotornya diri. Seperti orang suci yang justru merasa dirinya kotor sehingga sholatnya terlambat hanya untuk belama-lama mengambil wudhu.

Tapi, bukankah paras putih biasa kita sebut pucat, tanda kurang sehat? Ternyata ketika kita bicara dengan warna, selalu bisa berhubungan dengan baik tapi juga buruk.

Kembali lagi ke air, topik awal kita. Sedikit aneh memang jika diamati sebenarnya air putih tidak berwarna putih, melainkan tanpa warna. Susu memang putih, tetapi yang disebut air putih itu bening. Putih sebenarnya tetap saja salah satu warna, bahkak kalau semua warna kita oplos, jadilah putih. Beninglah yang tanpa warna. Bening jauh lebih dahsyat ketimbang putih. Keberadaannya tidak membutuhkan dukungan warna, tetapi keberadaanya dirasakan benar. Lihat saja kaca yang bening, yang menjadikan pandangan kita mampu menerobos apa-apa yang ada dibalik kaca. Dan udara yang sepanjang hayat kita hirup. Dia tidak nampak seperti wedus gembel turun dari Gunung Merapi. Dia tidak berwarna dan juga tidak berbau. Tetapi kandungan oksigennya dialirkan darah ke seluruh tubuh sehingga bagian-bagian tubuh kita bisa befungsi. Demikian pula air bening. Tanpa campuran apapun air bening mampu mengalahkan rasa dahaga kita, dan malah lebih sehat. Air bening juga mampu menjernihkan. Segelas air keruh yang kita tuangi air bening terus menerus akhirnya kekeruhannya akan berkurang.

Itulah yang akan kita lakukan di bulan Ramadhan yang hanya tinggal menghitung hari lagi. Mengusir kekeruhan diri kita dengan menggelontorkan air bening sepanjang bulan. Agar dipenghujung bulan kita akan kembali fitri. Kembali fitri yang menyegarkan. Air bening itu bukan rasa lapar dan dahaga, melainkan segala sesuatu yang ilahiyah. Air bening itu mengisyaratkan lepasnya dimensi warna yang sering menjebak kita. Ya Izzati, sampaikanlah kami nanti pada bulanMu yang suci.