Aku pernah membaca kutipan “Forgive to forget”, memaafkan untuk melupakan. Aku tahu kala itu aku belum bisa melupakan karena mungkin aku belum bisa memaafkan. Tapi memaafkan apa? Memaafkan karena aku pernah jatuh dan suka? Entah, kupikir kurang tepat rasanya kalau Forgive to forget. Lagi pula sekalipun nantinya aku memaafkan, tidak berarti bahwa aku akan bisa melupakan. Sudahlah, jangan bercanda, yang namanya melupakan tak pernah bisa dilakukan dengan sengaja. Kecuali ditemukan alat yang dapat membuat orang amnesia. Atau cuci otak secara berkala dan berkelanjutan. Konyol sekali. Memaafkan pula akan membantu hati lebih tenang. Ya, dengan memaafkan hanya membuat kita lebih berbaik hati menatap masa depan dan berdamai dengan masa lalu. Lalu, apa yang perlu dimaafkan? Yaa.. Yang dirasa perlu dimaafkan. Kalau tidak ada, segera saja beranjak melanjutkan jalan ke masa depan. Memaafkan dan menerima saja masih belum cukup kalau pola pandang kita masih bertumpu masa lalu, apalagi cuma sekedar memaafkan. Yang terpenting adalah kita butuh ketegasan untuk diri sendiri, ketika kita sendiri masih plin plan, mengharap masa lalu lagi dan lagi. Sekecil apapaun harapan terhadap masa lalulah yang akan tetap mengganjal tujuan hari depan. Karena sesuatu yang kecil itu adalah bagian dari masa lalu yang akan bisa muncul dan menari-nari ke permukaan.

Pare, 18 Mei 2015