“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”
[QS. An-Naba: 9-11]

Siang sering dimaknai sebagai waktu penghidupan dengan segala aktivitas jasad yang bekerja untuk “mempertahankan hidup”. Sedangkan malam adalah sebuah kehidupan, ia merupakan waktu untuk kembali menyerap energi, beristirahat dan mengembalikan stamina untuk bergelut dengan banyak aktifitas keesokan harinya. Malam adalah penyedia energi lahir dan batin, sebab selain jasad yang beristirahat, Allah memberikan keistimewaan di penghujungnya.

Bagi generasi pendahulu, malam adalah madrasah. Tempat untuk menempa diri, waktu yang digunakan sepenuhnya untuk lebih merasakan kehadiran Allah. Mereka sedikit sekali tidur di malam hari, karena saat itulah Allah turun langsung ke langit bumi untuk melihat siapa diantara manusia yang terbangun dan mengingat-Nya disaat sebagian lain lelap dalam mimpi tidurnya. Rahasia para salafus shalih dan para pejuang Islam juga terletak pada waktu malamnya. Sebab disanalah mereka bisa melepas penat, mengadukan segala tentang kehidupan.

“Allah ta’ala turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang pertama telah berlalu. Dia berkata, Akulah Raja. Akulah Raja, siapa yang berdoa kepadaKu Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu, aku beri, siapa yang meminta ampun, Aku ampuni. Dia terus berkata demikian hingga fajar merekah.” [HR. Muslim]

Sebut saja Nuruddin Zanki, dialah yang berhasil meruntuhkan harapan pasukan salib, menjatuhkan segala kesombongan mereka dengan kemenangan yang gemilang. Hingga terdengarlah bisik-bisik diantara pasukan salib bahwa kemenangan Nuruddin Zanki bukan karena jumlah pasukannya yang lebih banyak, namun ia mempunyai hubungan yang amat dekat dengan Tuhannya. Ia menang karena doa dan sholat malamnya. Ia senantiasa mengangkat tangannya di penghujung malam dan Tuhannya mengabulkan doanya.

Tahajjud

Keheningan malam memang melenakan. Tidak semua orang bisa lolos dari madrasah yang bernama malam. Sebab empuknya ranjang seringkali lebih menggoda dibandingkan dinginnya air wudhu serta kenikmatan bercengkerama dengan Sang Pencipta, karena setan memang tak pernah tinggal diam apabila ada seorang manusia yang mempunyai niat untuk bangun di penghujung malam.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Setan mengikatkan tiga ikatan diatas tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika dia tidur. Dia kencangkan masing-masing ikatannya, seraya berkata, “Malam ini begitu panjang, maka tidurlah!” Apabila orang itu bangun, lalu berdzikir kepada Allah, maka lepaslah salah satu ikatan. Apabila dia berwudhu, maka lepaslah satu ikatan. Apabila dia sholat, maka lepaslah satu ikatan, sehingga dia pun menjadi giat dan baik jiwanya. Apabila dia tidak melakukannya, maka dia akan menjadi malas dan buruk jiwanya.”

Selanjutnya diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, dia berkata,”Diceritakan kepada Nabi SAW tentang seorang lelaki yang tidur pada suatu malam sampai pagi.” Maka beliaupun bersabda,

“Itu adalah seorang lelaki yang telah dikencingi oleh setan di kedua telinganya.”