Tags

Dari langit yang tanpa tiang dan tiada retak retak, Allah Maha Kuasa untuk menganugerahkan kehidupan di bumi. Dengan siraman-Nya, ceciptaan yang semula mati menjadi tumbuh, berkembang, berbiak, dan beranak pinak. Ialah air yang diberkahi dan penuh keberkahan, menjadi rahmat-Nya bagi yang tandus, mandul, gersang, dan kekeringan.

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” [QS Qaaf: 9-11]

Perhatikanlah bagaimana Allah mengaruniakan daya bagi bebijian yang tertimbun di dalam bumi. Dengan air yang Allah siramkan, tunasnya yang lembut berkecambah, naik menembus tanah keras. Pun akarnya bercecabang ke bawah, mengejar air hujan yang meresap. Betapa kuatnya makhluk yang bernama benih yang telah Dia hidupkan setelah sebelumnya tertidur dalam kubur. Ia nantinya menjelma menjadi tanaman pangan yang diketam panennya, pokok kurma yang menjulang dengan mayang yang bersusun, dan aneka bebuahan yang tegak maupun merambat. Semuanya menjadi rizqi bagi para hamba.

Bahagia dibawah hujan

“Demikianlah perumpamaan bagi kebangkitan yang akan dialami manusia,” pungkas Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.

Betapa mudah bagi Allah meniupkan kehidupan pada tulang belulang dan debu, untuk bangkit berhimpun mempertanggungjawabkan amal perbuatan. Dalam hujan di lapis-lapis keberkahan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk bertauhid kepada Allah sebagai satu-satunya yang kuasa menurunkan karunia. Tersunnahkan ucapan,

“Umthirnaa bi fadhlillahi wa rahmatih”

Kami dikaruniai hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya. Agar kita tidak menisbat rintik atau lebatnya pada bintang ini dan gemintang itu. Inilah yang akan menderaskan lapis-lapis keberkahan di dalam tiap butir butir air yang berdebur.

“Perbanyaklah berdoa di kala hujan turun,” demikian Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu menasihatkan, “Sebab ketika itu pintu-pintu langit sedang dibuka.” Adapun doa asasi yang diajarkan Sang Nabi ketika hujan turun dalam riwayat Imam Al Bukhari adalah ucapan,

“Allahumma shayyiban naafi’an.”

“Ya Allah, jadilah hujan ini penuh kemanfaatan.”

“Disunnahkan untuk berbasah-basah dengan hujan ketika ia turun,” demikian tulis Dr. Nashir bin Abdur Rahman Al Juda’i dalam At Tabaruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu, “Serta mengeluarkan pakaian, perkakas, dan kendaraan agar terkena hujan.” Ini didasarkan pada hadits Anas bin Malik dalam Shahih Muslim saat beliau menyaksikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyingkap pakaiannya agar air hujan mengenainya, “Kami bertanya,” ujar Anas, “Wahai Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Sebab hujan itu diturunkan dari sisi Rabbnya.”

Demikianlah pula Imam Al Bukhari mengetengahkan riwayat bahwa Ibnu Abbas jika hujan turun, maka beliau memerintahkan agar pelana dan pakaian beliau dikeluarkan, kemudian beliau turut berhujan- hujanan sejenak sembari membaca Surah Qaaf ayat ke sembilan.

Tabarakallah. Di lapis lapis keberkahan, segala yang berasal dari Nya dan dituntunkan Rasul Nya, baiklah pastinya.

Ustadz Salim A Fillah