Tags

, , ,

Lelaki tampan itu tersenyum hangat penuh keramahan, mengulurkan tangan, menggandeng dan menggenggam jemari seorang lelaki buta yang tertatih mendekatinya. Beliau mendudukkan sang lelaki buta di sebelahnya dengan penuh kasih.

“Selamat datang wahai lelaki yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku!”

Masih dengan senyum sumringahnya lelaki tampan tersebut mengucapkan seuntai kalimat selamat datang, dan sang tamu pun tersipu mendengarnya. Ya, beliau yang selalu tersenyum adalah kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW dan lelaki buta tersebut tentu Abdullah ibn Ummi Maktum, seorang yang kisahnya termaktub dalam Al-Qur’an.

Kisah teguran Allah terhadap Rasulullah SAW memang sudah lama sekali terjadi, namun tentu beliau tidak bisa melupakannya begitu saja. Saat itu beliau sedang berhadapan dengan para petinggi Quraisy untuk menyampaikan kebenaran ayat-ayat Allah. Besar harapan beliau para petinggi Quraisy bisa bergabung dengan Islam, sehingga ketika tiba-tiba Abdullah ibn Ummi Maktum datang, beliau memalingkan muka dan enggan membalas sapaannya. Saat itu beliau sempat bermuka masam, ada kekhawatiran citra Islam menjadi buruk karena diikuti oleh kaum dhu’afa sehingga akan membuat para petinggi Quraisy enggan mengikuti ajarannya. Akan tetapi kemudian Allah menegur beliau dengan telak seperti yang dapat kita baca di dalam Quran Surat Abasa.

 

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang buta telah datang pada-Nya (Abdullah ibn Ummi Maktum)”
QS. 80:1-2.

Manusia adalah tempat alpa dan lupa, tak terkecuali Rasulullah SAW. Beliaupun pernah melakukan kekhilfan dan mendapat teguran langsung dari Allah. Peristiwa tersebut tak dapat dilupakan sepanjang hidup beliau. Lalu bagaimana dengan kita? Adakah yang bisa menghitung berapa banyak kesalahan yang telah dilakukan? Adakah yang dapat mengurai, perbaikan apa yang telah sungguh-sungguh diusahakan selama ini? Sejatinya segala apa yang terjadi dalam hidup adalah sebuah proses untuk membaikkan diri kita. Sesuatu yang dianggap sebagai beban atau duka adalah jalan untuk membuat kita lebih mulia. Hanya saja, sadarkah kita tengah dibuat baik oleh-Nya, dan dengan lapang mengikuti segala proses yang dihadirkan-Nya dalam cerita hidup kita.