Tags

, ,

Kau tahu?
Taubat itu tentang berubah. Berubah yang seperti apa? Berubah yang ikhlas dan tanpa paksaan. Analogi sebutir telur ayam. Ia akan pecah (menetas) dengan sendirinya dan tumbuh sehat menjadi seekor anak ayam. Ini karena ia pecah dari dalam. Secara natural. Cerita akan lain, jika si telur di pecah dengan paksa dari luar (sengaja ditetaskan). asilnya anak ayam tidak akan tumbuh sempurna, bahkan (mungkin) bisa mati karena dipaksa, suatu proses yang tidak semestinya dan sewajarnya.

Kita adalah telur itu. Sedangkan cara menetasnya (pecah) adalah proses perubahan kita. Artinya setiap perbuatan yang tidak datang dari hati, akan sulit menjalankannya. Sebaliknya, jika suatu tindakan itu sangat kita sukai dan kita inginkan, tentunya dibarengi dengan niat yang benar-benar datang dari hati, niscaya hasilnyapun akan maksimal. Begitupun halnya dengan taubat, tidak akan maksimal jika tidak adanya niatan dari diri sendiri.

So, kalau ada teman, saudara, atau kerabat dekat kita berada pada fase ‘berubah’ itu. Kita tak patut memaksakan. Toh agama kita sangat tidak menganjurkan pemaksaan. Tugas kita cukup mengucurkan doa sebagimana mestinya sebagai saudara seiman. Memberikan motivasi boleh, asal tidak bersifat provokasi.

(Derry Sulaiman-revised)